Sesungguhnya pertentangan akal dengan syariat takkan terjadi manakala dalilnya shahih dan akalnya sehat.
Namun terkadang muncul ketidak cocokan akal dengan dalil walaupun dalilnya shahih.
Mendahulukan Akal
Kalau terjadi hal demikian maka jangan salahkan dalil, namun curigailah akal. Di mana bisa jadi akal tidak memahami maksud dari dalil tersebut atau akal itu tidak mampu memahami masalah yang sedang dibahas dengan benar. Sedangkan dalil, maka pasti benarnya.
Ketika Dalil bertentangan dengan Akal
Hal ini berangkat dari ajaran Al Qur’an dan As Sunnah yang mengharuskan kita untuk selalu kembali kepada dalil. Demikian pula anjuran para shahabat yang berpengalaman dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan mengalami kejadian turunnya wahyu. Seperti dikatakan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab:
Wahai manusia, curigailah akal kalian terhadap agama ini.” (HR.Thabrani, Marwiyyat Ghazwah Al-Hudaibiyyah, hal. 177, 301)
Beliau mengatakan demikian karena pernah membantah keputusan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dengan pendapatnya, walaupun pada akhirnya tunduk.
Beliau pada akhirnya melihat ternyata maslahat dari keputusan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam begitu besar dan tidak terjangkau oleh pikirannya. Oleh karenanya,
Ibnu Qayyim mengatakan: “Jika dalil naqli bertentangan dengan akal, maka yang diambil adalah dalil naqli yang shahih dan akal itu dibuang dan ditaruh di bawah kaki, tempatkan di mana Allah meletakkannya dan menempatkan para pemiliknya.” (Mukhtashar As-Shawa’iq, 82-83 dinukil dari Mauqif Al-Madrasah Al-‘Aqliyyah, 1/61-63)
Abul Muzhaffar As-Sam’ani ketika menerangkan Aqidah Ahlus Sunnah berkata: “Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai panutan mereka dan mencari agama dari keduanya.
Apa yang terbetik dalam akal dan benak, mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah. Kalau mereka dapati sesuai dengan keduanya, mereka terima dan bersyukur kepada Allah di mana Allah perlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik-Nya.
Tapi jika tidak sesuai dengan keduanya, maka mereka meninggalkannya dan mengambil Al Kitab dan As Sunnah kemudian menuduh salah terhadap akal mereka. Karena sesungguhnya keduanya (Al Kitab dan As Sunnah) tidak akan menunjukkan kecuali kepada yang hak sedang pendapat manusia kadang benar kadang salah.” (Al-Intishar li Ahlil Hadits hal. 99)
Jika akal didahulukan maka akan tergelincir pada sekian banyak bahaya:
1. Menyerupai Iblis
semoga Allah melaknatinya ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam alaihi salam, kemudian ia membangkang dan menentang dengan akalnya.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍْ
Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’
Iblis menjawab: ‘Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’.” (Al-A’raf: 12)
2. Menyerupai orang kafir
yang menolak keputusan Allah dengan akal mereka, seperti penentangan mereka terhadap kenabian Nabi Muhammad. Mereka katakan:
وَقَالُوْا لَوْلاَ نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ
Dan mereka berkata: ‘Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?’.” (Az-Zukhruf: 31)
3. Tidak mengambil faidah dari Rasul sedikitpun
karena mereka tidak merujuk kepadanya pada perkara-perkara ketuhanan. Sehingga adanya Rasul menurut mereka seperti tidak ada. Keadaan mereka bahkan lebih jelek karena mereka tidak mengambil manfaat sedikitpun justru butuh untuk menolaknya.
4. Mengikuti hawa nafsu dan keinginan jiwa.
Allah berfirman:
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Qashash: 50)
5. Menyebabkan kerusakan di muka bumi
sebagaimana perkataan Ibnu Qayyim.
6. Berkata dengan mengatas namakan Allah dan Rasul-Nya tanpa ilmu
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.” (Al-Hajj: 8)
Ini termasuk larangan terbesar.
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوْا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah:
‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” (Al-A’raf: 33)
7. Menyebabkan perbedaan dan perpecahan pendapat
8. Terjatuh dalam keraguan dan bimbang.
Firmal Allah
[Al-Mauqih, 1/81-92]
Pantaslah kalau Al-Imam Adz-Dzahabi mengatakan tentang orang-orang yang tetap mengedepankan akalnya: “Jika kamu melihat ahlul kalam ahli bid’ah mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari Al Qur’an dan hadits ahad dan tampilkan akal,’ maka ketahuilah bahwa ia adalah Abu Jahal.” (Siyar A’lamin Nubala, 4/472) (fawaid Qomar Suaidi Lc hafidzahullah)
Sunnah dijaga dengan kebenaran, kejujuran, dan keadilan bukan dengan kedustaan dan kedhaliman."(Ibnu Taimiyyah rahimahullahu)
"Ya Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku." (QS Thaha: 114)
Kemudian Allah menutup ayat 114 surah Thaha dengan firman-Nya,
﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.” Ayat ini jelas sekali menunjukkan kemuliaan ilmu. Setelah Allah menegur Nabi Muhammad yang tergesa-gesa dalam mengikuti pengucapan Jibril, Allah pun memberikan petunjuk tentang apa yang harus beliau lakukan, yaitu berdoa dengan mengucapkan, “Rabbi zidnii ilmaa”. Di antara doa-doa yang juga Nabi Muhammad ajarkan kepada kita terkait hal ini adalah,
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا
Ya Allah, jadikanlah ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku bermanfaat bagiku, ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah aku ilmu.” (HR. Ibnu Majah) Begitu juga doa yang sering beliau ucapkan setelah shalat Subuh
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah) Dan ketahuilah saudaraku, Nabi Muhammad tidaklah pernah diperintahkan oleh Allah untuk meminta tambahan atas sesuatu, kecuali ilmu, sebagaimana yang Allah firmankan dalam ayat ini,
﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwasanya setelah Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan Rabbii zidnii ilmaa,
Allah pun menambahkan lagi ilmu kepada beliau, yaitu kisah tentang nenek moyang manusia, yaitu Nabi Adam ‘Alaihissalam, serta nenek moyang setan, yaitu Iblis la’natullaah alaih. (Ust Firanda)
MENGEDEPANKAN AKAL DARIPADA DALIL ADALAH SUATU KEBATHILAN YANG MEMBAWA KESESATAN AKAL DIGUNAKAN UNTUK MEMAHAMI DALIL BUKAN MENGHAPUS DALIL HADITS LARANGAN MENJULURKAN KAIN MELEWATI MATA KAKI (HR MUSLIM)
WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM MENGIKUTI DALIL* Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah Ta'ala.
*Khutbah Pertama*
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد
Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah.. Sidang Jumat yang mudah-mudahan dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada kita dan kita wajib untuk selalu bersyukur kepada Allah Karena nikmat yang Allah karuniakan kepada kita sangat banyak dan tidak akan dapat kita hitung. Ikhwani fiddin a’azzakumullah..
Dalam kesempatan khutbah yang singkat ini, saya akan bawakan tentang prinsip yang besar dalam Islam yaitu dalam kita beragama, pijakan kita, pegangan kita adalah dalil dari Al-Qur’an wa Sunnah ‘ala fahmi Salaf.
Bukan kata orang, bukan kata orang, bukan kata Syaikh, bukan kata Ustadz, bukan kata Imam, bukan fatwa, tapi dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ini prinsip yang besar dalam agama Islam. Sampai orang-orang kafir ketika mengatakan bahwa mereka yang berhak untuk masuk surga, yang diminta oleh Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar minta pada mereka dalil. Allah sebutkan di dalam surah Al-Baqarah di ayat 111,
وَقَا لُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَـنَّةَ اِلَّا مَنْ كَا نَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَا نِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَا تُوْا بُرْهَا نَکُمْ اِنْ کُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Mereka berkata bahwa tidak ada yang berhak untuk masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Katakanlah bawa bukti kamu, bawa dalil kamu, bawa hujjah kamu, jika kamu orang yang jujur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 111)
Allah menyebutkan bahwa orang Yahudi Nasrani berkata bahwa tidak akan masuk surga itu kecuali orang Yahudi Nasrani. Kata Allah تِلْكَ اَمَا نِيُّهُمْ (itu angan-angan mereka),
قُلْ هَا تُوْا بُرْهَا نَکُمْ اِنْ کُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Bawa hujjah kamu, bawa dalil kamu, jika kamu orang-orang yang jujur). Jadi dalam kita beragama dalil, hujjah, bukan kata orang, bukan kata Ustadz, bukan kata Syaikh, bukan kata Ulama, bukan kata Imam, bukan kata fatwa, tapi dalil. Allah sebutkan lagi dalam surah Al-Isra’ di ayat 36, Allah berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا
Jangan kamu ikut apa yang kamu tidak tahu, karena semua pendengaran, mata dan hati akan ditanya oleh Allah” (QS. Al-Isra'[17]: 36) Jangan ikut, jangan taqlid, minta dalil. Kalau sudah datang dalil, maka kewajiban kita ikut dalil, Al-Qur’an wa As-Sunnah itu yang kita ikut.
Kalau manusia ingin selamat, ingin bahagia, ingin tenang, ingin tentram, ingin masuk surga, harus ikut dalil, karena itulah ketentuan dari syari’at. Sampai Nabi bersabda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam kitab yang Mustadrak di juz yang pertama, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي ، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ
Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang dengan dua perkara itu: yaitu Kitabullah dan Sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah sampai datang menemui aku nanti di telaga.” (HR. Hakim) Ikhwani fiddin a’azzakumullah..
Ini penting untuk kita camkan, ini dalil yang besar. Dalil yaitu Qur’an dan Sunnah. Kalau disebutkan ilmu, maka Qur’an dan Sunnah, tidak ada yang lain. Dan ini pokok yang paling besar dari semuanya, tidak ada yang lebih besar daripada itu. Maka dikatakan oleh Imam Ibnu Jauzi di dalam kitabnya Shaidul Khatir,
فإن العلم هو الأصل الأعظم
Ilmu itu merupakan pokok yang paling besar,” Lebih besar dari semua ulama. Ilmu maksudnya dalil. Kalau sudah datang dalil dari Quran dan Sunnah, kewajiban kita untuk ikut,
Sami’na wa Atho’na, tidak boleh kita menolak dalil dengan alasan “Ada kata Imam begini, kata Ustadz,
kata Syaikh, kata fatwa,” dalil yang kita ikut. Kalau sudah ada dalil tentang wajibnya kita ikut dalil itu, jangan pilih-pilih.
Ketika orang pilih-pilih, pasti sesat. Allah Sebutkan di dalam surah Al-Ahzab di ayat 36 Allah berfirman,
وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا
Tidak patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan kalau sudah datang perintah Allah dan RasulNya tidak berhak bagi mereka untuk pilih-pilih dalam urusan mereka.
Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan RasulNya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 36)
Ketika dia pilih-pilih menurut hawa nafsunya, menurut enaknya dia, tidak ikuti dalil (sesat). Ikhwani fiddin a’azzakumullah..
Tadi disebutkan bahwa siapapun dia orangnya yang mengatakan itu, kalau menyalahi dalil, maka tidak boleh kita ikut. Saya ambil contoh sahabat besar yang dijamin dengan masuk surga, yaitu Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.
Ketika Abu Bakar dan Umar melarang tentang haji tamattu’, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan haji tamattu’.
Haji tamattu’ itu artinya kita melaksanakan umrah di bulan-bulan haji, dimulai Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah. Kemudian selesai kita melakukan umroh, kita tahallul (menggunting rambut) kemudian kita ganti lagi dengan pakaian biasa.
Nanti begitu tanggal 8 Dzulhijjah, kita berpakaian ihrom lagi niat untuk haji.
Ini namanya tamattu’.
Waktu itu ada yang menyebutkan bahwasannya Abu Bakar dan Umar melarang, kata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:
أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَقُولُ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
Aku menyangka mereka akan binasa. Aku katakan, ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda’, lalu mereka mengatakan, ‘Abu Bakr dan ‘Umar melarangnya’.” (HR. Ahmad)
Akan binasa, kalau sudah datang dalil “Qola Rasulullah” maka kewajiban kita untuk sami’na wa atho’na. Itu orang beriman. Meskipun yang berkata Abu Bakar dan Umar, kalau menyalahi sabda Rasulullah, kita buang pendapat itu. Ini penjelasan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma.
Sebagaian disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya di juz yang pertama, dan dijelaskan juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Fatawa, Ibnul Qayyim dalam kitabnya I’lamul Muwaqi’in, dan juga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya, yakni
Kitab Tauhid. Makanya dikatakan oleh Ibnu Abbas: “Mereka akan binasa. Aku berkata: “Qola Rasulullah” tapi kalian berkata: “Telah berkata Abu Bakar dan Umar.
Padahal kedua sahabat itu sudah yang paling tinggi. Dari seluruh manusia yang paling mulia Abu Bakar dan Umar, ahli jannah. Tapi tidak boleh ikut kalau menyalahi sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yang kita ikut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Itu jalan selamat dan itu akan membawa manusia ke Surga.
Kemudian juga dikatakan oleh orang-orang kepada Ibnu Umar. Ibnu Umar sama pendapatnya dengan Ibnu Abbas tentang adanya haji tamattu’. Bahkan sebagian ulama berpendapat haji tamattu’ itu wajib. Kemudian orang mengatakan:
Bapakmu (Umar) mengatakan tidak boleh (Umar melarang).” Kemudian kata Ibnu Umar: “Apakah yang kita ikuti Rasulullah atau Umar?” Padahal Ibnu Umar ini adalah anaknya Umar. Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam sunannya.
Yang kita ikut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hujjah dalam kita beragama ini adalah dalil. Bahkan ketika terjadi persilangan, ada pendapat ini dan pendapat ini, kembalikan kepada Quran dan Sunnah. Ini prinsip yang besar. Allah sebutkan dalam surah An-Nisa’ di ayat 59,
فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
Apabila kalian berselisih tentang suatu perkara dalam masalah agama ini, kembalikan kepada Allah (kepada Qur’an), kembalikan kepada Rasul (kepada Sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir dan itu yang paling baik dan sebaik-baik akibatnya.” (QS. An-Nisa'[4]: 59)
Jadi kalau ada perselisihan, kembalikan kepada dalil, yaitu Qur’an dan Sunnah.
Yang harus kita ingat, jangan sekali-kali kita menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kalau orang menyalahi perintah Rasulullah, pasti celaka, pasti binasa, pasti sesat, pasti dia tidak akan mengalami ketentraman dan ketenangan dalam hidupnya, akan ditimpa dengan berbagai macam fitnah dan yang lainnya dan juga azab. Allah berfirman dalam surah An-Nur di ayat 63,
Allah berfirman: فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَا لِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖۤ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
Hendaknya berhati-hati orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah, akan ditimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. An-Nur[24]: 63) Yang kita kerjakan perintah Rasullullah, jangan yang lain. Dan harus kita ingat, kita ini berpegang kepada dalil.
Kalau kita pakai dalil, maka selamat kita. Dalil yaitu Qur’an dan Sunnah, bukan kata orang. Ini penting dalam kita beragama, supaya kita betul-betul ketika ada apapun, tetep istiqomah di atas manhaj yang haq ini, Al-Qur’an wa Sunnah ‘ala fahmi Salaf. Mudah-mudahan yang saya sampaikan bermanfaat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم *
Khutbah Kedua*
Ikhwani fiddin a’azzakumullah..
Kalau kita berpegang kepada dalil Al-Qur’an wa Sunnah ‘ala fahmi salaf, kita belajar ini untuk kita amalkan, bukan koleksi ilmu.
Kita belajar, belajar, belajar, menuntut ilmu, kita baca Quran, kita baca hadits, supaya kita tambah kuat iman kita, tambah takut kita kepada Allah, tidak takut kepada siapapun juga.
وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ
Tidak takut kecuali kepada Allah.” Ketika Allah menyebutkan tentang yang meramaikan Masjid itu orang beriman, Allah menyebutkan dalam surat At-Taubah ayat 18, وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ “
Ia tidak takut kecuali kepada Allah.” (QS. At-Taubah[9]: 18) Takutnya hanya kepada Allah. Kita baca Quran, baca hadits, kita belajar, supaya apa? Yaitu supaya tambah iman kita kepada Allah, tambah takut kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang beriman begitu, orang menakut-nakuti apa saja dia tidak takut. Seperti yang Allah sebutkan dalam surah Ali Imran tentang para sahabat ketika pulang dari Perang Uhud, orang-orang munafik menakut-nakuti, mereka itu orang-orang kafir Mekkah, قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ “Mereka telah berkumpul untuk balik lagi ke Madinah, hendaklah kalian takut.” فَزَادَهُمْ إِيمَانًا “Bertambah imannya.” Kalau orang beriman ditakut-takuti justru tambah iman, bukan tambah takut. Kalau orang beriman ditakut-takuti, maka tambah iman dia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah sebutkan dalam surah Ali Imran: وَّقَا لُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ “Cukuplah Allah sebaik-baik pelindung.” Jadi, ikhwani fiddin a’azzakumullah.
Dengan kita mengikuti dalil Quran dan Sunnah ‘ala fahmi salaf, kita mentaati perintah Allah, mentaati perintah Rasulullah, betul-betul kita cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Karena Allah memerintahkan dalam Al-Qur’an untuk ittiba’ kepada Rasulullah. Allah memerintahkan untuk mengikuti Qur’an, Allah memerintahkan untuk mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ “Ikuti apa yang Allah turunkan, jangan ikuti yang lain...” (QS. Al-A’raf[7]:
3) Ikuti Qur’an, ikuti Sunnah, maka akan mendapatkan ketenangan, kebahagiaan, keberkahan, kenikmatan, banyak manfaatnya, puluhan manfaat. Beda dengan orang-orang yang takut, dengan orang-orang yang tidak mengikuti dalil, mereka tidak tenang hidupnya, shalat juga belum tentu benar.
Tapi beda dengan orang-orang yang betul-betul mengikuti dalil. Akan mendapatkan ketenangan, akan mendapatkan kebahagiaan, akan mendapatkan keberkahan, akan mendapatkan pahala, akan mendapat doa dari para malaikat,
Malaikat mendoakan:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ
Ya Allah ampuni dia, Ya Allah sayangi dia…” Malaikat mendoakan di pintu-pintu masjid, kepada orang-orang yang datang ke masjid.
Beda dengan yang tidak ke masjid, tidak akan mendapat ketenangan, tidak akan mendapat kebahagiaan. Bahkan menurut dalil Al-Qur’an tadi, dia akan sesat.
Allah sudah putuskan tentang wajibnya, tapi dia milih yang lain, yang lebih enak buat dia. Padahal tidak ada yang lebih enak, yang ada adalah susah atau bahagia tetap ikut dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah.
Ini perintah dan ini merupakan prinsip yang besar yang wajib kita ingat, kita yakini, kita fahami, kita amalkan seumur hidup kita.
Mudah-mudahan khutbah ini bermanfaat untuk saya dan untuk Antum sekalian dan semoga Allah juga menetapkan kita di atas Islam dan Sunnah ‘ala fahmi salaf (izin khusus)
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
#doa, #ayatquran, #spiritualmedicine,





