Selasa, 07 November 2023

Metode Penafsiran Tafsir Al Quran

Inilah Metode penafsiraan Tafsir Al Quran yang sebagai pedoman hidup umat muslim.

Untuk itu kita wajib mempelajari dan memahami dan mengamalkan 

Bisa di pelajari bahwa Dalam;  bahasa arab, kata “sumber” sering diungkapkan dengan kata “mashdar” dan bentuk pluralnya ialah“Mashadir”. 

Secara bahasa, kata “masdar” menunjukan kepada arti “as-sudur”, yaitu tempat menujunya tafsir
(Taimiyah, 1971). 

 

Metode Penafsiran Tafsir Al Quran

Dalam kajian ilmu tafsir, yang dimaksud dengan sumber tafsir adalah sumber-sumber yang
dijadikan rujukan oleh para mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an dan meletakkannya dalam tafsir mereka.
Fahd Ar-Rumi mengemukakan pengertian Al-Masdar yaitu pada dasarnya untuk menunjukkan sumber
yang digunakan dalam tafsir, baik Al-Qur’an, as-sunah maupun riwayat dari sahabat, atau untuk menunjukkan
karya-karya yang dijadikan rujukan dalam tafsir (Ar-Rumi., n.d.). 

Dari periode awal penafsiran al-qur’an, yaitu
saat Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW, sumber penafsiran mutlak berada di tangan Rasulullah SAW.
Namun setelah beliau wafat, estafet tugas menafsirkan Al-Qur’an terus berlanjut hingga sekarang seiring dengan
kebutuhan masyarakat dan semakin jauhnya jarak turunnya al-qur’an dengan ummat yang sudah tentu perlu
adanya tafsir al-qur’an yang memenuhi tuntutan zaman.

 Hal ini berdampak pula pada sumber penafsiran Al- Qur’an yang dijadikan rujukan pada setiap generasi.

 

Bacalah juga ; Teruslah bersahabat sampai Allah memanggilmu , Pulang!

 

Kebenaran Al-Qur’an bersifat mutlak. Kebenaran yang pasti dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun
karena Al-Qur’an adalah wahyu yang bersumber dari Allah SWT. Sedangkan tafsir, kebenarannya bersifat relatif


karena ini merupakan produk hasil pemahaman manusia. Bukan berarti kesimpulan mufassir memahami al-qur’an sudah pasti benar, tergantung sumber yang digunakan oleh mufassir tersebut dalam memahami ayat-Al-Qur’an (Al-Zuhaili, 1978).

 

Sumber Tafsir Al Quran 

 Sampai saat ini, ulama berbeda.pendapat tentang ragam.sumber tafsir Al-Qur’an.
Merujuk kitab karangan Ibrahim Khalifah, sumber penafsiran”al-Qur’an dibagi kepada tiga.bagian,

1) Al-Riwâyah, 

2) Al-Ra’y,

3) Al-Isyârah. 

Pendapat ini dikemukakan pula oleh Ali as-Sabuni dan Abd al-‘Azim az-
Zarqani.
Berbeda halnya dengan pembagian sumber tafsir yang dikemukakan oleh Abd al-Wahab Fayd. 

Beliau
menyebutkan lima sumber rujukan tafsir yang menjadi sumber utama dalam setiap penafsiran Al-Qur’an, yaitu


1)Al-Qur’an

2) Hadits 

3) Perkataan para”sahabat dan tabi‘in


didasarkan.pada dalil (Abd al-Wahhab Fayd, n.d.). Selain itu, Imam az-Zarkasyi menyatakan empat sumber
tafsir yang paling penting, yaitu:


1) Hadist,

2) Perkataan para sahabat, 

3) Kemutlakan bahasa Arab, dan

 4) Sesuai, dengan tuntutan makna kalam dan hukum syari‘at (Al-Suyuti, n.d.).


Menurut Baiduzzaman Said Nursi dalam jurnal Iman dan Spiritualitas membagi sumber penafsiran menjadi;

1. Sumber tafsir primer (mashadir al-ashliyyah) dan 

2. Sumber tafsir sekunder (mashadir tsanawiyyah).

Sumber, primer sendiri merupakan tafsir bil-ma’tsur atau tafsir bil-naqli yaitu ;

Menafsirkan al-Quran dengan.berpedoman kepada al-Qur’an itu.sendiri, hadits Nabi, qaul sahabat dan qaul tabi’in.


Beliau juga berpendapat bahwa”ayat-ayat al-Qur’an menyimpan isyarat.petunjuk atas ayat-ayat lain, seperti

  • Isyarat.kenabian, hari.kiamat, dan berbagai macam keilmuan.


Adapun sumber sekunder 

Merupakan”sumber penunjang yang membantu memperkaya penafsiran, 

yaitu 5 berupa karya-karya milik mufassir lain yang relevan
dengan tafsirnya (Ghinaurraihal, Zulaiha, & Yunus, 2021). 


Sumber Primer Tafsir

Sumber primer seringkali disebut dengan tafsir bil Ma’tsur atau tafsir bil Naqli. Secara etimologis, lafadz
al-Ma’tsur berasal dari kata athara-yathuru-atharan yang bermakna naqala atau memindahkan (Yunus & Jamil,
2020). 

Al-Athar kemudian didefinisikan sebagai “al-Khabar al-Murawwi wa al-Sunnah”al-Baqiyah”dan al-Ma’thur
diartikan sebagai hadis yang diriwayatkan dan apa yang diwariskan ileh para ulama terdahulu.


Adapun secara
terminologis tafsir bil ma’tsur memiliki ragam definisi, sebagaimana yang, disampaikan oleh para ulama. Al-
Dzahabi mengartikan itafsir bil-Ma’tsur dengan “Segala sesuatu yang datang dari al-Quran untuk menjelaskan
dan memperinci ayat yang lainnya, yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, sahabat serta para tabi’in (Al-
Dzahabi, 2012).


Al-Qathan dalam kitabnya mengartikan bahwa tafsir bil matsur adalah tafsir yang berdasarkan pada
kutipan riwayat yang shahih menurut urutannya, yaitu menafsirkan al-Quran dengan Qur’an, dengan sunnah,
dengan perkataan sahabat, atau dengan perkataan tabi’in (Al-Qathân, 1997)


Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an

“Al-Qur’ân yufassir ba’dluhu ba’dlan”, ialah sebuah konsep yang oleh para ulama dikembangkan menjadi
tafsir maudlu’i dan populer pada era modern dan kontemporer, seperti Amin al-Khulli, Bint al-Syathi, Abu Hayy
al-Farmawi, Hassan Hanafi, dan Fazlu Rahman.

Jika diperhatikan lebih jauh sebenarnya konsep ini, sudah diterapkan dalam kehidupan kaum muslim sejati.

 

Literatur ; 

Al Quran dan Hadist 

A handbook of Spiritual Medicine


Mudah - mudahan artikel ini menambah keIMANAN kita bersama, disajikan dalam seputar AL QUR'AN, AYAT, Hadist, SPIRITUAL MEDICINE, Jika Anda ingin membaca artikel lain tersaji dalam ;


Bacalah juga :



Kesimpulan ;

Demikian uraian singkat artikel tentang Metode Penafsiran Tafsir Al Quran
Semoga bermamfaat dan menambah wawasan keImanan serta berpikir Cerdas, nantikan informasi Update
by Spiritual Medicine

Blog Post

Related Post

Bacalah float

Bacalah yang menarik

Back to Top

Cari Artikel